Kasus yang ditangani LPPTKI:

Mendampingi Siti Nurjamilah, TKW asal Desa Salam Nunggal, Cianjur yang sebelumnya bekerja di Kuwait. Siti Nurjamilah mendapatkan tindak kekerasan seksual berupa pemerkosaan sehingga menyebabkan kehamilan. Selain itu Siti juga diperlakukan sewenang-wenang oleh sang majikan dengan gaji yang tidak dibayar selama 6 tahun. Sesampainya di Indonesia, Siti melahirkan 3 orang bayi (kembar), dimana salah satu dari bayi tersebut meninggal dan 2 bayi lainya dapat bertahan hidup sampai dengan sekarang sekarang. Kemudian kedua bayi tersebut dititipkan Neneknya di Indonesia untuk dirawat. Hal tersebut dilakukan karena Siti harus berangkat lagi menjadi TKW di luar negeri untuk membiayai hidup kedua anaknya yang dilahirkan tersebut.

Kasus lainnya yang sedang ditangani LPPTKI saat ini adalah kasus Linda, TKW asal Indramayu yang sebelumnya bekerja di Riyadh, Arab Saudi. Permasalahan yang terjadi pada Linda adalah sang majikan (yang pertama) kerapkali melakukan tindak pelecehan seksual terhadap dirinya dengan mencoba memperkosa bahkan mengawininnya. Tidak tahan dengan perlakuan majikan tersebut, akhirnya Lindapun melarikan diri dari kediaman sang majikan pertama tersebut. Tak lama akhirnya Linda bekerja pada majikan kedua bernama Dr. Ali al Anbar yang mempunyai anak bernama Rakhan Ali al Anbar yang bertempat tinggal di Qortobak, Riyadh. Anak majikan tempat Linda bekerja tersebut jatuh hati kepada Linda dan membujuknya dengan segala cara untuk dapat menikahi Linda. Akhirnya anak majikan tersebut pun dapat menikahi Linda. Namun ketika Linda hamil dan memasuki usia kandungan 7 bulan, secara sepihak sang majikan memulangkan dirinya ke Indonesia. Linda dengan terpaksa menuruti kemauan majikanya tersebut dikarenakan sang majikan ( yang merangkap mertua) serta suaminya berjanji untuk menjemputnya kembali ketika ia sudah melahirkan bayinya. Namun hingga saat ini (oktober 2008) tidak ada kabar dari sang majikan, bahkan janji yang sebelumnya telah disepakati sekarang hanya tinggal janji saja. Yang lebih memprihatinkan, menurut kesaksian Linda, ketika pulang ke Indonesia dalam satu pesawat ia bersama 7 orang TKW lainya yang sedang dalam kondisi hamil dan belum mengetahui kejelasan tentang nasib mereka berikutnya.

Kasus lainya yaitu Murni, TKW asal Wonogiri yang bekerja di Jeddah, Arab Saudi. Saat ini sedang menanti kelahiran bayinya akibat hubungan seksual di Negara penempatan. Ketika ia menelpon suaminya di Indonesia dan menceritakan kondisinya saat itu, suaminya malah marah dan menceraikan Murni saat itu juga melalui telepon karena mengingat Murni nantinya akan pulang membawa aib, bukanya membawa duit. Ini adalah ketigakalinya Murni berangkat menjadi TKI dan gaji tidak dibayar selama 6 bulan.Sama hal nya dengan TKW Linda, Murni juga belum mendapatkan kejelasan tentang nasibnya sesudah ia melahirkan bayinya nanti.

Menanggapi kasus TKW yang hamil di luar negeri:

“ Kedua belah pihak negara (baik itu Negara pengirim, maupun negara penerima) harus mempunyai itikad yang baik untuk melindungi TKW dikarenakan setiap pihak mempunyai hak, hak Negara pengirim dan negara penerima serta hak anak-anakku sebagai TKI pekerja. Di dalam Undang-undang penempatan dan perlindungan Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, sayangnya tidak ada pasal yang menyebutkan tentang perlindungan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang hamil serta bayi-bayi yang mereka lahirkan yang berasal dari hubungan seksual di Negara penempatan, baik itu hubungan seksual akibat diperkosa, maupun hubungan yang sifatnya suka sama suka. Tapi saya sebagai Emaknya TKW, tetap menghargai anak-anakku yang melahirkan atau membawa bayinya untuk pulang ke Indonesia dan tidak melakukan tindak aborsi di Negara penempatan atau di tempat lainya. Artinya mereka masih punya naluri sebagai seorang ibu. Seperti yang kita ketahui, mereka pulang membawa aib besar yang mereka sandang untuk seumur hidup. Seharusnya pihak pemerintah memikirkan beban biologis yang ditanggung oleh anak-anak TKW dikarenakan usia mereka yang masih tergolong muda (18-35 tahun) dengan masa kontrak dua tahun di Negara tujuan. Dan sampai saat ini LPPTKI masih banyak menemukan TKW yang tidak memegang PK (Perjanjian Kerjasama) yang ditandatangani bersama PJTKI. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah upaya pemerintah sejauh ini untuk melindungi mereka dalam hal biologis, mengingat kasus ini berulangkali terjadi sampai saat ini?.” (Normawati, Oktober 2008)

Jakarta, oktober 2008

Kasus kekerasan seksual yang diikuti dengan kekerasan fisik pun terjadi pada Deuis Atikah, TKW asal Cianjur yang bekerja di Jordan. Sang majikan mencoba memperkosa Deuis Atikah dengan segala cara, tidak terima dengan perlakukan majikanya tersebut, Deuis pun mencoba kabur sampai sang majikan mengejarnya ke lantai tiga. Majikan tersebut akhirnya dapat meraih tubuh Deuis dan memeluknya dari belakang, tetapi karena deuis berusaha melepaskan diri dari perlakukan majikanya tersebut, ia pun terjatuh dari lantai 3 sehingga menyebabkan kaki serta pinggangnya patah. Saat ini Deuis Atikah telah dipulangkan ke Indonesia, namun penyelesaian kasusnya belum dilaksanakan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab. Upaya yang dilakukan pun sepertinya sia-sia, dikarenakan surat pengaduan yang dilayangkan kepada pihak Disnaker pada 4 tahun lalu belum mendapatkan respon hingga saat ini.


**( Tim LPPTKI secara tak sengaja mendapatkan kasus Deuis Atikah ketika sedang membantu pemulangan jenazah adik kandung Deuis Atikah yang bekerja sebagai TKW di Kuwait)

 

Kasus TKW bermasalah (musykilah) juga terjadi pada Siti Aminah binti Sarno, TKW asal Semarang yang bekerja pada majikanya yang bernama Eman Maghetib, di Al Qobal Al Jazeerah, Siti Aminah mengadukan nasibnya ke LPPTKI melalui telepon seluler via sms yang ditujukan langsung kepada ketua umum LPPTKI yaitu Ibu Normawati. Siti Aminah mengaku bahwa dirinya diperlakukan semena-mena oleh majikanya. Diantaranya gaji yang dibayar hanya dengan 600 real sebulan, dari gaji tersebut belum termasuk biaya untuk keperluanya seperti membeli odol, sabun, pembalut, dsb. Untuk makan pun majikanya memberi seadanya. Bahkan selama 4 tahun ia tidak diizinkan untuk pulang ke Indonesia, kalaupun ingin pulang, majikanya menyuruh dirinya untuk membeli tiket dengan biaya sendiri.

Adapun kutipan sms yang dikikirimkan oleh Siti Aminah adalah :

         “ Asslm, Sy d Al-Khobal, jl. Jazira 618 da. Ya bu 4 tahun g plg. Pernh sy blg g plg brarti dpt uag pswt? Kty y nanti klu plg? Tp org sn banyak bohongnya……

(+966567102XXX- sms terputus)

 

 

 

 

Ratusan TKW Ilegal Ditahan di Arab

 

Banyuwangi ( Bali Post)- ( 17 Januari 2008 )

Permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di luar negeri terus saja mengalir. Sedikitnya 400 TKW ilegal ditahan pemerintah Arab Saudi karena tidak mengantongi identitas resmi. Mereka adalah para TKW yang kabur dari rumah majikan masing-masing sejak tahun 2005 lalu. Diantara ratusan yang ditahan, beberapa diduga telah tewas secara mengenaskan. Kebanyakan TKW yang ditahan berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

 

Pengakuan itu disampaikan dua mantan TKW Banyuwangi yang baru saja pulang dari penjara tasawul di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (16/1) kemarin. Mereka masing-masing Nur Istianah (25), warga Tegalsari dan Supiyati (25), warga Giri, banyuwangi. Keduanya berani menceritakan keganasan penjara di Arab setelah diselamatkan oleh LSM Pendamping dan Pengembangan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) asal Jakarta.

 

“ Kami nekat kabur setelah disiksa majikan. Setelah itu ditangkap dan dijebloskan ke penjara tasawul,” kata Supiyati mengalami ceritanya. Di tempat itu, para TKW ditempatkan dalam sel panjang. Yang menyedihkan, beberapa TKW harus meregang nyawa setelah dijemput majikanya lagi. Mereka yang dijemput kembali majikanya dipastikan akan pulang tinggal nama. Ironisnya, mayat-mayat TKW masih tersimpan dibawah lantai penjara massal tersebut. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan.

 

Supiyati berangkat menjadi TKW sekitar tahun 2005 silam bersama puluhan rekannya. Dia berangkat secara resmi melalui sebuah Jasa Pengerah TKI (PJTKI) di jakarta. Tiba di Arab, dia ditempatkan sebagai pembantu rumah tangga. Nasib sial mulai muncul pada bulan ketiga. Majikan mulai kasar dan berbuat tidak senonoh. “ saya sempat disekap, lalu mau diperkosa” kenangnya sedih.

 

Tindakan kasar majikan terus berlanjut hingga bulan berikutnya. Bahkan gaji mulai tidak dibayar. Merasa tak kuat lagi, Supiyati nekat kabur lewat jendela dan loncat dari lantai atas. Dia pun kabur ke KBRI. Sialnya, dari sini bukannya diselamatkan, melainkan dilarikan ke penjara Tasawul yang mengerikan. Aksi oknum petugas KBRI itu diduga sengaja dilakukan. Dari sinilah oknum pejabat KBRI memainkan strategi pungli. Para TKW yang keburu dipenjara, diiming-imingi bebas dengan tagihan sejumlah uang. Caranya menguruskan sisa gaji yang masih belum dibayarkan oleh majikan. Padahal setiap 20 hari sekali pihak kerajaan Arab Saudi memulangkan para TKW secara gratis.

 

Supiyati bisa lolos dari tempat maut itu setelah mendekam hampir empat bulan. Dia bisa bebas karena ada LSM Indonesia yang berani mengeluarkanya secara gratis. Dari sinilah, Supiyati bersama beberapa rekanya menghirup udara segar dan pulang dengan selamat. Silanya, masih ada 400 lebih TKW yang masih mendekam di tempat itu. Nasibnya pun belum jelas. Supiyati mengaku kapok dengan musibah yang dialaminya. Dia berharap para calon TKW bisa berhati-hati sebelum memutuskan berangkat ke Arab atau negara lainya.

 

Direktur PPTKI Normawati mengatakan kesaksian yang dituturkan Supiyati bukanlah rekayasa. Dia berhasil memulangkanya setelah berkoordinasi dengan atase tenaga kerja KBRI di Riyadh. “Jika tidak ada pihak yang peduli, kasus seperti ini akan terus berlanjut. Inilah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap nasib warganya di luar negeri, terutama yang jadi TKW,” kritiknya ketika mendampingi Supiyati. Cerita yang dituturkan Supiyati mewakili ratusan TKW yang masih disekap di penjara tasawul. Rencananya, mereka akan diupayakan bebas tanpa syarat. Di antara sekian TKW yang bebas, kata Normawati terdapat satu warga Denpasar, Bali. Sayangnya dia lupa alamat TKW yang dimaksud.

 

 

 

 

 

Mengunjungi Istiqomah, TKI Banyuwangi yang pernah disandera tentara irak.

Cerai Dengan Suami, Kini Tinggal Bersama Anak Angkat

 

Awal oktober 2004, salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi, Istiqomah, mengejutkan dunia Internasional. Dia jadi sandera tentara Irak selama sepekan. Beruntung berkat lobi-lobi pemimpin Indonesia, wanita kelahiran Desa Bangunsari, Kecamatan Songgon itu bisa lepas dari cengkeraman teroris.

 

(SYAMSUL ARIFIN, BANYUWANGI)

 

Rumah sederhana di Lingkungan Tangkong, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi itu terlihat ramai siang itu. Sorang wanita paruh baya duduk di kursi ruang tamu. Gerak-geriknya sopan dan ramah. Dialah istiqomah, TKI yang pernah disandera sepekan di negeri seribu satu malam.

 

Monggo mas, silahkan masuk. Maaf rumahnya acak-acakan.” Ucap Istiqomah mempersilahkab wartawan koran ini masuk ke ruang tamu. Di tempat itu, Istiqomah tidak sendirian. Dia ditemani si kecil yang masih berusia 6 tahun. Bocah itu tak lain anak angkat Istiqomah yang diasuh sejak kecil. Siang itu dia kedatangan tamu dari LSM Pendampingan dan Pengembangan Tenaga kerja Indonesia (PPTKI) Jakarta. Ada tiga orang dari PPTKI. Mereka adalah Ny. Normawati (koordinator), Wellen Heriansyah dan M. Rafi.

 

Berkat bantuan PPTKI inilah anak pasangan suami istri Mishad dan Misati bisa meninggalkan Irak. Sekedar tahu,LSM yang berhome base di Jl Albarkah nomor 31, Manggarai, jakarta Selatan itu memang bergerak di bidang pendampingan TKI, khususnya yang jadi korban kekerasan dan kesemena-menaan. Bukan hanya Istiqomah yang pernah ditolong, ratusan TKI korban kesewenang-wenangan berhasil dientas PPTKI. Tiga tahun lamanya Istiqomah tidak bersua dengan Ny Normawati. Tak pelak, begitu bertemu, keduanya saling peluk penub keharuan. Saking harunya, Istiqomah tak bisa membendung air matanya. “ Saya tak menyangka bisa bertemu Bunda lagi ( panggilan Istiqomah kepada Ny. Normawati, Red). Dialah yang menolong kami hingga pulang kampung ke Banyuwangi,” tutur Istiqomah sembari mengusap air matanya.