April 2008


 

 

 

 

Ratusan TKW Ilegal Ditahan di Arab

 

Banyuwangi ( Bali Post)- ( 17 Januari 2008 )

Permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di luar negeri terus saja mengalir. Sedikitnya 400 TKW ilegal ditahan pemerintah Arab Saudi karena tidak mengantongi identitas resmi. Mereka adalah para TKW yang kabur dari rumah majikan masing-masing sejak tahun 2005 lalu. Diantara ratusan yang ditahan, beberapa diduga telah tewas secara mengenaskan. Kebanyakan TKW yang ditahan berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

 

Pengakuan itu disampaikan dua mantan TKW Banyuwangi yang baru saja pulang dari penjara tasawul di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (16/1) kemarin. Mereka masing-masing Nur Istianah (25), warga Tegalsari dan Supiyati (25), warga Giri, banyuwangi. Keduanya berani menceritakan keganasan penjara di Arab setelah diselamatkan oleh LSM Pendamping dan Pengembangan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) asal Jakarta.

 

“ Kami nekat kabur setelah disiksa majikan. Setelah itu ditangkap dan dijebloskan ke penjara tasawul,” kata Supiyati mengalami ceritanya. Di tempat itu, para TKW ditempatkan dalam sel panjang. Yang menyedihkan, beberapa TKW harus meregang nyawa setelah dijemput majikanya lagi. Mereka yang dijemput kembali majikanya dipastikan akan pulang tinggal nama. Ironisnya, mayat-mayat TKW masih tersimpan dibawah lantai penjara massal tersebut. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan.

 

Supiyati berangkat menjadi TKW sekitar tahun 2005 silam bersama puluhan rekannya. Dia berangkat secara resmi melalui sebuah Jasa Pengerah TKI (PJTKI) di jakarta. Tiba di Arab, dia ditempatkan sebagai pembantu rumah tangga. Nasib sial mulai muncul pada bulan ketiga. Majikan mulai kasar dan berbuat tidak senonoh. “ saya sempat disekap, lalu mau diperkosa” kenangnya sedih.

 

Tindakan kasar majikan terus berlanjut hingga bulan berikutnya. Bahkan gaji mulai tidak dibayar. Merasa tak kuat lagi, Supiyati nekat kabur lewat jendela dan loncat dari lantai atas. Dia pun kabur ke KBRI. Sialnya, dari sini bukannya diselamatkan, melainkan dilarikan ke penjara Tasawul yang mengerikan. Aksi oknum petugas KBRI itu diduga sengaja dilakukan. Dari sinilah oknum pejabat KBRI memainkan strategi pungli. Para TKW yang keburu dipenjara, diiming-imingi bebas dengan tagihan sejumlah uang. Caranya menguruskan sisa gaji yang masih belum dibayarkan oleh majikan. Padahal setiap 20 hari sekali pihak kerajaan Arab Saudi memulangkan para TKW secara gratis.

 

Supiyati bisa lolos dari tempat maut itu setelah mendekam hampir empat bulan. Dia bisa bebas karena ada LSM Indonesia yang berani mengeluarkanya secara gratis. Dari sinilah, Supiyati bersama beberapa rekanya menghirup udara segar dan pulang dengan selamat. Silanya, masih ada 400 lebih TKW yang masih mendekam di tempat itu. Nasibnya pun belum jelas. Supiyati mengaku kapok dengan musibah yang dialaminya. Dia berharap para calon TKW bisa berhati-hati sebelum memutuskan berangkat ke Arab atau negara lainya.

 

Direktur PPTKI Normawati mengatakan kesaksian yang dituturkan Supiyati bukanlah rekayasa. Dia berhasil memulangkanya setelah berkoordinasi dengan atase tenaga kerja KBRI di Riyadh. “Jika tidak ada pihak yang peduli, kasus seperti ini akan terus berlanjut. Inilah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap nasib warganya di luar negeri, terutama yang jadi TKW,” kritiknya ketika mendampingi Supiyati. Cerita yang dituturkan Supiyati mewakili ratusan TKW yang masih disekap di penjara tasawul. Rencananya, mereka akan diupayakan bebas tanpa syarat. Di antara sekian TKW yang bebas, kata Normawati terdapat satu warga Denpasar, Bali. Sayangnya dia lupa alamat TKW yang dimaksud.

 

 

 

 

 

Mengunjungi Istiqomah, TKI Banyuwangi yang pernah disandera tentara irak.

Cerai Dengan Suami, Kini Tinggal Bersama Anak Angkat

 

Awal oktober 2004, salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi, Istiqomah, mengejutkan dunia Internasional. Dia jadi sandera tentara Irak selama sepekan. Beruntung berkat lobi-lobi pemimpin Indonesia, wanita kelahiran Desa Bangunsari, Kecamatan Songgon itu bisa lepas dari cengkeraman teroris.

 

(SYAMSUL ARIFIN, BANYUWANGI)

 

Rumah sederhana di Lingkungan Tangkong, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi itu terlihat ramai siang itu. Sorang wanita paruh baya duduk di kursi ruang tamu. Gerak-geriknya sopan dan ramah. Dialah istiqomah, TKI yang pernah disandera sepekan di negeri seribu satu malam.

 

Monggo mas, silahkan masuk. Maaf rumahnya acak-acakan.” Ucap Istiqomah mempersilahkab wartawan koran ini masuk ke ruang tamu. Di tempat itu, Istiqomah tidak sendirian. Dia ditemani si kecil yang masih berusia 6 tahun. Bocah itu tak lain anak angkat Istiqomah yang diasuh sejak kecil. Siang itu dia kedatangan tamu dari LSM Pendampingan dan Pengembangan Tenaga kerja Indonesia (PPTKI) Jakarta. Ada tiga orang dari PPTKI. Mereka adalah Ny. Normawati (koordinator), Wellen Heriansyah dan M. Rafi.

 

Berkat bantuan PPTKI inilah anak pasangan suami istri Mishad dan Misati bisa meninggalkan Irak. Sekedar tahu,LSM yang berhome base di Jl Albarkah nomor 31, Manggarai, jakarta Selatan itu memang bergerak di bidang pendampingan TKI, khususnya yang jadi korban kekerasan dan kesemena-menaan. Bukan hanya Istiqomah yang pernah ditolong, ratusan TKI korban kesewenang-wenangan berhasil dientas PPTKI. Tiga tahun lamanya Istiqomah tidak bersua dengan Ny Normawati. Tak pelak, begitu bertemu, keduanya saling peluk penub keharuan. Saking harunya, Istiqomah tak bisa membendung air matanya. “ Saya tak menyangka bisa bertemu Bunda lagi ( panggilan Istiqomah kepada Ny. Normawati, Red). Dialah yang menolong kami hingga pulang kampung ke Banyuwangi,” tutur Istiqomah sembari mengusap air matanya.

 

 

 

 Selengkapnya dapat diakses pada :

http://www.ilo.org/public/indonesia/region/asro/jakarta/download/hivaidsmigran.pdf

Pemerintah Harus Tanggung Jawab

BANYUWANGI – Kematian Abdullah Bawazir, TKI asal Lateng, Banyuwangi langsung mengundang perhatian dari Lembaga Pendampingan dan Pengembangan Tenaga Kerja Indonesia (LPPTKI). LSM yang berkantor di Jl Albarkah nomor 31, Manggarai, Jakarta Selatan itu siap me-back up kasus ini. “Bagaimana pun juga pemerintah harus bertanggungjawab. Kalau memang dibutuhkan, PPTKI siap membantu memulangkan jenazah TKI tadi,” tegas Direktur LPPTKI Normawati yang kebetulan posisinya berada di Banyuwangi.Mengacu pengalaman yang pernah ditangani LPPTKI, jika ada TKI meninggal di tempat kerja, pihak-pihak yang berkompeten harus bertanggung jawab. “Mandor dan agennya juga harus tanggungjawab. Apalagi keberangkatan korban ke Malaysia lewat jalur resmi,” tegas wanita berjilbab yang pernah mendapat penghargaan dari Ny Ani Susilo Yudhoyono itu.

Langkah awal dari penanganan kasus ini, lanjut Normawati, pihak keluarga harus memberikan kuasa kepada LPPTKI. “Kita kenal dengan Pak Teguh, atase RI di Malaysia. Kalau memang dibutuhkan, kami siap ditemui sewaktu-waktu,” kata Normawati didampingi ketua bidang advokasi dan pembelaan hak-hak pekerja Wellen Heriansyah SH.

Sekadar tahu, LPPTKI adalah sebuah LSM yang bergerak di bidang pendampingan masalah tenaga kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu kasus yang pernah ditangani adalah ikut membantu pemulangan Istiqomah, TKW asal Banyuwangi yang pernah disandera tentara Irak, Oktober 2004 lalu. “Tidak lama lagi, kami akan buka posko di Banyuwangi,” tegas Normawati. (nic/aif)

 

 

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=189967&c=104

diakses pada tanggal : 02-04-2008

pukul 13:30

 
 
 

 

Advokasi atau pembelaan yang dilakukan LPPTKI dalam upayanya terhadap Tenaga Kerja Indonesia dengan berbagai jenis permasalahan diantaranya :

  1. Eksploitasi TKI oleh majikan berupa gaji tidak dibayar, beban kerja berlebihan, kurangnya waktu istirahat, kekerasan fisik dan pelecehan seksual.
  2. Diperjualbelikan antar majikan, lari dari majikan atau pindah majikan atas inisitaif sendiri atau pengaruh pihak lain.
  3. Tidak mampu bekerja, tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat.
  4. Sakit bawaan
  5. Kesulitan melakukan pengawasan terhadap majikan
  6. TKI melakukan pelanggaran hukum setempat
  7. Pemalsuan dokumen
  8. TKI ilegal

SUMBER MASALAH

Dari dalam negeri

1.            Akses informasi yang minim tentang prosedur, persyaratan, dan cara-cara bekerja di luar negeri, serta cara bila menghadapi masalah sehingga menjadi korban perdagangan manusia.

2.            Pemalsuan dokumen seperti job order fiktif, visa, kartu keluarga, ijazah palsu, surat izin keluarga, paspor tidak sesuai identitas.

3.            Penyiapan pelatihan SDM belum maksimal, manipulasi sertifikat keterampilan, manipulasi keterangan kesehatan dan seleksi psikologi masih kurang.

4.            Penyekapan di penampungan dengan kondisi penampungan yang buruk.

5.            Diperjualbelikan diantara calo.

 

Di Negara Penempatan

  1. Pelanggaran kontrak kerja
  2. Mengalami penyiksaan dan kekerasan ( Kekerasan fisik dan seksual)
  3. Diperdagangkan dan bahkan dipekerjakan sebagai pelacur.
  4. Di PHK sepihak, dipulangkan majikan tanpa diberikan hak-haknya sebelum habis kontrak dan tanpa alasan yang jelas.
  5. Potongan gaji berlebihan oleh agen maupun PPTKI (S)
  6. Rendahnya pengawasan dan lambatnya penyelesaian masalah.
  7. Adanya oknum-oknum pegawai teknis ketenagakerjaan atau atase ketenagakerjaan di perwakilan RI di luar negeri yang menyalahgunakan wewenang.

 

Dari TKI sendiri

  1. Hamil, akibatnya dikeluarkan dari tempat bekerja.
  2. TKI melakukan hubungan seks dengan pasangan yang bukan muhrimnya.
  3. TKI melakukan tindak kriminal atau melanggar hukum.

 

Permasalahan khusus setelah TKI kembali ke Indonesia

  1. Penipuan nilai tukar mata uang asing/ valas
  2. Sulitnya mendapat tiket gratis bagi TKI muskilah
  3. Maraknya calo Cargo dan calo tiket pesawat
  4. Pungutan liar antara lain yang dilakukan oleh oknum-oknum porter.
  5. Penahanan paspor dismissal prosedur untuk TKI Muskilah dengan alasan tagihan rumah juga dengan alasan untuk mengurus asuransi oleh pihak PJTKI
  6. Tidak adanya fasilitas yang memadai atau ress room untuk bayi TKI dan TKI yang hamil
  7. Pemerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pengemudi travel ketika mengantarkan TKI pulang ke rumah.