Ratusan TKW Ilegal Ditahan di Arab

 

Banyuwangi ( Bali Post)- ( 17 Januari 2008 )

Permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di luar negeri terus saja mengalir. Sedikitnya 400 TKW ilegal ditahan pemerintah Arab Saudi karena tidak mengantongi identitas resmi. Mereka adalah para TKW yang kabur dari rumah majikan masing-masing sejak tahun 2005 lalu. Diantara ratusan yang ditahan, beberapa diduga telah tewas secara mengenaskan. Kebanyakan TKW yang ditahan berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

 

Pengakuan itu disampaikan dua mantan TKW Banyuwangi yang baru saja pulang dari penjara tasawul di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (16/1) kemarin. Mereka masing-masing Nur Istianah (25), warga Tegalsari dan Supiyati (25), warga Giri, banyuwangi. Keduanya berani menceritakan keganasan penjara di Arab setelah diselamatkan oleh LSM Pendamping dan Pengembangan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) asal Jakarta.

 

“ Kami nekat kabur setelah disiksa majikan. Setelah itu ditangkap dan dijebloskan ke penjara tasawul,” kata Supiyati mengalami ceritanya. Di tempat itu, para TKW ditempatkan dalam sel panjang. Yang menyedihkan, beberapa TKW harus meregang nyawa setelah dijemput majikanya lagi. Mereka yang dijemput kembali majikanya dipastikan akan pulang tinggal nama. Ironisnya, mayat-mayat TKW masih tersimpan dibawah lantai penjara massal tersebut. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan.

 

Supiyati berangkat menjadi TKW sekitar tahun 2005 silam bersama puluhan rekannya. Dia berangkat secara resmi melalui sebuah Jasa Pengerah TKI (PJTKI) di jakarta. Tiba di Arab, dia ditempatkan sebagai pembantu rumah tangga. Nasib sial mulai muncul pada bulan ketiga. Majikan mulai kasar dan berbuat tidak senonoh. “ saya sempat disekap, lalu mau diperkosa” kenangnya sedih.

 

Tindakan kasar majikan terus berlanjut hingga bulan berikutnya. Bahkan gaji mulai tidak dibayar. Merasa tak kuat lagi, Supiyati nekat kabur lewat jendela dan loncat dari lantai atas. Dia pun kabur ke KBRI. Sialnya, dari sini bukannya diselamatkan, melainkan dilarikan ke penjara Tasawul yang mengerikan. Aksi oknum petugas KBRI itu diduga sengaja dilakukan. Dari sinilah oknum pejabat KBRI memainkan strategi pungli. Para TKW yang keburu dipenjara, diiming-imingi bebas dengan tagihan sejumlah uang. Caranya menguruskan sisa gaji yang masih belum dibayarkan oleh majikan. Padahal setiap 20 hari sekali pihak kerajaan Arab Saudi memulangkan para TKW secara gratis.

 

Supiyati bisa lolos dari tempat maut itu setelah mendekam hampir empat bulan. Dia bisa bebas karena ada LSM Indonesia yang berani mengeluarkanya secara gratis. Dari sinilah, Supiyati bersama beberapa rekanya menghirup udara segar dan pulang dengan selamat. Silanya, masih ada 400 lebih TKW yang masih mendekam di tempat itu. Nasibnya pun belum jelas. Supiyati mengaku kapok dengan musibah yang dialaminya. Dia berharap para calon TKW bisa berhati-hati sebelum memutuskan berangkat ke Arab atau negara lainya.

 

Direktur PPTKI Normawati mengatakan kesaksian yang dituturkan Supiyati bukanlah rekayasa. Dia berhasil memulangkanya setelah berkoordinasi dengan atase tenaga kerja KBRI di Riyadh. “Jika tidak ada pihak yang peduli, kasus seperti ini akan terus berlanjut. Inilah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap nasib warganya di luar negeri, terutama yang jadi TKW,” kritiknya ketika mendampingi Supiyati. Cerita yang dituturkan Supiyati mewakili ratusan TKW yang masih disekap di penjara tasawul. Rencananya, mereka akan diupayakan bebas tanpa syarat. Di antara sekian TKW yang bebas, kata Normawati terdapat satu warga Denpasar, Bali. Sayangnya dia lupa alamat TKW yang dimaksud.

 

 

 

 

Advertisements