kegiatan LPPTKI


 

Mengunjungi Istiqomah, TKI Banyuwangi yang pernah disandera tentara irak.

Cerai Dengan Suami, Kini Tinggal Bersama Anak Angkat

 

Awal oktober 2004, salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi, Istiqomah, mengejutkan dunia Internasional. Dia jadi sandera tentara Irak selama sepekan. Beruntung berkat lobi-lobi pemimpin Indonesia, wanita kelahiran Desa Bangunsari, Kecamatan Songgon itu bisa lepas dari cengkeraman teroris.

 

(SYAMSUL ARIFIN, BANYUWANGI)

 

Rumah sederhana di Lingkungan Tangkong, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi itu terlihat ramai siang itu. Sorang wanita paruh baya duduk di kursi ruang tamu. Gerak-geriknya sopan dan ramah. Dialah istiqomah, TKI yang pernah disandera sepekan di negeri seribu satu malam.

 

Monggo mas, silahkan masuk. Maaf rumahnya acak-acakan.” Ucap Istiqomah mempersilahkab wartawan koran ini masuk ke ruang tamu. Di tempat itu, Istiqomah tidak sendirian. Dia ditemani si kecil yang masih berusia 6 tahun. Bocah itu tak lain anak angkat Istiqomah yang diasuh sejak kecil. Siang itu dia kedatangan tamu dari LSM Pendampingan dan Pengembangan Tenaga kerja Indonesia (PPTKI) Jakarta. Ada tiga orang dari PPTKI. Mereka adalah Ny. Normawati (koordinator), Wellen Heriansyah dan M. Rafi.

 

Berkat bantuan PPTKI inilah anak pasangan suami istri Mishad dan Misati bisa meninggalkan Irak. Sekedar tahu,LSM yang berhome base di Jl Albarkah nomor 31, Manggarai, jakarta Selatan itu memang bergerak di bidang pendampingan TKI, khususnya yang jadi korban kekerasan dan kesemena-menaan. Bukan hanya Istiqomah yang pernah ditolong, ratusan TKI korban kesewenang-wenangan berhasil dientas PPTKI. Tiga tahun lamanya Istiqomah tidak bersua dengan Ny Normawati. Tak pelak, begitu bertemu, keduanya saling peluk penub keharuan. Saking harunya, Istiqomah tak bisa membendung air matanya. “ Saya tak menyangka bisa bertemu Bunda lagi ( panggilan Istiqomah kepada Ny. Normawati, Red). Dialah yang menolong kami hingga pulang kampung ke Banyuwangi,” tutur Istiqomah sembari mengusap air matanya.

 

Pemerintah Harus Tanggung Jawab

BANYUWANGI – Kematian Abdullah Bawazir, TKI asal Lateng, Banyuwangi langsung mengundang perhatian dari Lembaga Pendampingan dan Pengembangan Tenaga Kerja Indonesia (LPPTKI). LSM yang berkantor di Jl Albarkah nomor 31, Manggarai, Jakarta Selatan itu siap me-back up kasus ini. “Bagaimana pun juga pemerintah harus bertanggungjawab. Kalau memang dibutuhkan, PPTKI siap membantu memulangkan jenazah TKI tadi,” tegas Direktur LPPTKI Normawati yang kebetulan posisinya berada di Banyuwangi.Mengacu pengalaman yang pernah ditangani LPPTKI, jika ada TKI meninggal di tempat kerja, pihak-pihak yang berkompeten harus bertanggung jawab. “Mandor dan agennya juga harus tanggungjawab. Apalagi keberangkatan korban ke Malaysia lewat jalur resmi,” tegas wanita berjilbab yang pernah mendapat penghargaan dari Ny Ani Susilo Yudhoyono itu.

Langkah awal dari penanganan kasus ini, lanjut Normawati, pihak keluarga harus memberikan kuasa kepada LPPTKI. “Kita kenal dengan Pak Teguh, atase RI di Malaysia. Kalau memang dibutuhkan, kami siap ditemui sewaktu-waktu,” kata Normawati didampingi ketua bidang advokasi dan pembelaan hak-hak pekerja Wellen Heriansyah SH.

Sekadar tahu, LPPTKI adalah sebuah LSM yang bergerak di bidang pendampingan masalah tenaga kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu kasus yang pernah ditangani adalah ikut membantu pemulangan Istiqomah, TKW asal Banyuwangi yang pernah disandera tentara Irak, Oktober 2004 lalu. “Tidak lama lagi, kami akan buka posko di Banyuwangi,” tegas Normawati. (nic/aif)

 

 

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=189967&c=104

diakses pada tanggal : 02-04-2008

pukul 13:30