NORMAWATI Dengan Hati Mendampingi TKI

 

Perlakuan tak manusiawi terhadap para TKI membuat Normawati

miris hati. Ia tergerak menjadi aktivis pendamping pekerja migran.

Kini isu HIV/AIDS selalu diusungnya.

 

KISAH tentang para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menderita dan gagal mengadu nasib di negeri seberang, tidak ada habis-habisnya mengalir dari mulut Normawati, ibu tiga putra ini. Mengawali karier sebagai pegawai biasa di sebuah perusahaan jasa telekomunikasi, membuat Normawati sering bepergian dengan pesawat ke beberapa kota di luar Jawa, terutama ke Kalimantan. Ia terbilang sering keluar-masuk Bandar Udara Soekarno- Hatta, Cengkareng, Banten. Maklum, bisnis telekomunikasi sedang ramai ramainya kala itu. Saat menunggu keberangkatan, perempuan yang akrab dipanggil Norma ini mengaku sering melihat pemandangan yang memiriskan hati. Tidak sekali-dua kali ditemuinya sejumlah TKI perempuan yang baru tiba kembali ke Tanah Air, mendapatkan perlakuan kasar dan tidak manusiawi dari sejumlah oknum aparat dan calo di bandara. “Tidak jarang ada yang menangis karena kehilangan barang bawaan dan uang hasil kerja selama bertahun-tahun di luar negeri. Ada juga yang ditipu, diperas, bahkan diperlakukan tidak manusiawi, baik oleh para oknum aparat maupun calo yang berkeliaran di sana.

 

Enam tahun lalu belum ada terminal khusus buat TKI. Mereka disatukan di terminal dua dengan penumpang biasa. Kasihan mereka, tidak ada yang mau mengurus,” kisah Norma. Tidak cuma melihat, perempuan yang selalu tampil bersemangat ini juga mengaku punya sanak famili yang menjadi korban penipuan. Bedanya, keluarganya tertipu perusahaan Pengerah Jasa TKI, yang menjanjikan pekerjaan di Korea Selatan. Uang Rp 8 juta yang dibayarkan untuk biaya administrasi dan pemberangkatan ke negeri Ginseng itu menguap, sementara pengusaha PJTKI raib entah ke mana. Dari sejumlah kejadian tadi, Norma yang kini menjabat Ketua Pendamping dan Pengembangan TKI (PPTKI), semakin tergerak untuk turun tangan.

 

Saat mengurus kasus saudaranya di kantor Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans), betapa terkejutnya dia menemukan hampir 100 calon TKI dari berbagai daerah juga sedang mencari kejelasan dan keadilan. Kepalang basah, ia lalu memutuskan untuk mendampingi para korban tadi. Beberapa dari mereka bahkan menumpang tinggal di rumahnya hingga empat bulan untuk mengurus kasusnya. Uang memang berhasil diminta kembali walau hanya sisa seperdelapannya saja.

 

Ia mengaku senang bisa membantu para korban dan saudaranya tadi. Keberhasilannya itu semakin memompa semangatnya untuk terus mendampingi para TKI yang terbelit masalah. Ketika perusahaan tempatnya bekerja terpaksa gulung tikar akibat digempur krisis ekonomi berkepanjangan, apa boleh buat, Norma semakin “basah” menceburkan diri. Sejak saat itu, semakin beragam pula persoalan yang dia tangani. Tidak sekadar penipuan atau pemalsuan dokumen dan surat-surat penting, banyak pula para TKI yang mengalami sejumlah praktik kekerasan seperti dianiaya, diperkosa, bahkan dibunuh. Semua kejadian itu tidak hanya terjadi saat mereka bekerja, namun juga saat kembali pulang ke Tanah Air. Tahun 2002, papar Norma, empat orang TKI yang baru pulang dari Saudi Arabia ditemukan sekarat dengan kondisi tubuh penuh luka di Bandara Soekarno- Hatta. Ketika itu ia sudah menjadi sukarelawan untuk Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (Kopbumi).

 

Tanpa pikir panjang, Norma lantas menawarkan diri untuk mendampingi dan membawa mereka ke Rumah Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur. Lagi-lagi, ia terkejut sekaligus prihatin saat menemukan banyak korban lain yang dirawat setelah mengalami kejadian yang kurang lebih sama. Beberapa di antaranya bahkan mengalami depresi berat. Parahnya, tidak satu pun dari mereka didampingi sanak keluarganya atau pihak PJTKI, yang memberangkatkannya. Kalau pun ada, pihak keluarga atau PJTKI yang datang malah punya tujuan lain. Alih-alih merawat dan menjaga, mereka malah sibuk menanyakan cek gaji. “Perlakuan yang mereka terima kadang sampai di luar batas kemanusiaan,” tutur Norma. Kekhawatiran Norma bukannya tanpa alasan. Bayangkan saja, ia bahkan pernah mendampingi seorang TKI asal Indramayu, Jawa Barat, yang diperkosa lima orang berkebangsaan Arab. Korban yang terluka parah dipulangkan ke Indonesia secara paksa.

 

Kendati kasus ini ditangani langsung Markas Besar Polri, namun berujung tanpa kejelasan. “Padahal pemerintah seharusnya bertanggung jawab melindungi para TKI. Mereka sudah mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi bangsa dan negara ini lewat devisa yang mereka hasilkan. Lagipula mereka juga sangat berjasa membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran akibat tidak adanya lapangan kerja yang memadai. Mereka mencari peluang kerja sendiri ketika pemerintah tidak mampu menyediakan kebutuhan itu,” kata Norma.

 

Mendalami HIV/AIDS Setelah sekian lama berkecimpung menangani dan mendampingi para TKI bermasalah, Norma mengaku baru secara intensif belajar dan banyak memperoleh masukan informasi seputar HIV/ AIDS pada 2002, saat mengikuti pelatihan yang digelar ILO. Sebelumnya ia tidak merasa perlu atau berkewajiban menjelaskan masalah HIV kepada para TKI yang didampinginya. Barulah setelah menerima banyak pelatihan tentang HIV/AIDS, dirinya menyadari pentingnya pengetahuan HIV/AIDS bagi para TKI dan calon TKI dampingannya. “Dari sana saya semakin sadar, anak-anak (TKI) sangat perlu diberitahu. Tujuan mereka bekerja ke luar negeri untuk cari duit, bukan cari penyakit. Kita harus membekali mereka agar tidak pulang membawa penyakit. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” tambah Norma.

 

Dengan berbekal pengetahuan yang didapatkan dari beberapa kali pelatihan, Norma memutuskan untuk “menularkan” sebanyak mungkin pengetahuan dan pemahamannya soal HIV/AIDS pada para calon TKI beserta keluarganya. Setidaknya setiap dua bulan sekali dia datang ke “kantong-kantong” TKI, seperti di beberapa wilayah seputaran Jakarta, Cianjur, dan Sukabumi. Kedatangannya ke beberapa tempat itu untuk mendampingi sekaligus menampung keluhan atau pengaduan dari para keluarga TKI. “Biasanya, sambil menyediakan waktu buat mereka berkonsultasi, saya juga sering menyisipkan pengetahuan dan info sederhana seputar HIV/AIDS. Sengaja saya lakukan seperti itu supaya mereka tidak bosan. Kalau penyampaiannya terlalu serius atau sengaja dialokasikan waktunya, mereka malah tidak tertarik. Mereka bilang Cuma bikin puyeng kepala saja,” ujar Norma yang sering membiayai sendiri perjalanannya ke kantong-kantong TKI tadi.

 

Ia juga “menularkan” ilmu pada para sopir mobil angkutan yang membawa para TKI menuju kampung halaman masingmasing. Para sopir termasuk kategori kelompok rentan tertular HIV/AIDS, karena tidak jarang berhubungan seks bebas suka sama suka dengan beberapa TKI yang baru pulang. “Mereka seringkali tidak tahan godaan. Akhirnya, ya, nekad ‘mampir’ sebentar ke penginapan untuk menyalurkan hasrat,” ujar Norma gamblang. Agar penyuluhan dan pemberian materi HIV/AIDS efektif, Norma memberikan materi sederhana yang dituturkan dalam bahasa dan cara yang juga sederhana. Maksudnya agar mudah dipahami. Tak jarang ia juga meminta bantuan aparat desa setempat untuk mengumpulkan warga saat penyuluhan.

 

Pada awalnya, cerita Norma, mereka tidak terlalu antusias dengan bahasan HIV AIDS. Tapi lama-kelamaan barulah tertarik dan malah jadi takut tertular. Para suami yang banyak ditinggal istri bekerja biasanya paling tertarik mengetahui masalah HIV/ AIDS. Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah keamanan menyalurkan kebutuhan biologis dengan perempuan lain yang mereka yakini “bersih”. “Tapi saya biasanya balik bertanya, ‘Bagaimana kamu bisa memastikan perempuan yang kamu ajak itu ‘bersih’? Tidak tahu, kan? Jadi hati-hati, jangan sampai malah kamu yang menulari istri ketika mereka pulang.’ Begitu biasanya saya jelaskan. Dengan cara sederhana seperti itu mereka bisa cepat menangkap dan akhirnya membuat mereka berpikir ulang untuk berhubungan seks secara berisiko,” ujar Norma yang selalu menggunakan pendekatan akrab, hangat, dan penuh kekeluargaan. Memang, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

 

 

 

( dikutip dari buletin HIV/AIDS ILO maret 2007, hal : 17)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Responses to “Profile Normawati”

  1. Mangasi Says:

    sukses ya mom……..

  2. pendampingan Says:

    iya terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s